Beranda/Blog/Tradisi Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa

22 Juni 2026 · TanggalanJawa.com

Tradisi Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa

Mengenal tradisi Siraman: prosesi menyucikan diri sebelum pernikahan dalam adat Jawa, lengkap dengan makna, urutan, dan perlengkapannya.

Siraman adalah salah satu rangkaian upacara penting dalam pernikahan adat Jawa. Prosesi ini dilakukan sehari sebelum akad atau ijab, sebagai simbol menyucikan diri calon pengantin secara lahir dan batin sebelum memasuki gerbang kehidupan baru.

Makna Siraman

Kata siraman berasal dari kata siram yang berarti "mengguyur" atau "memandikan". Secara simbolis, siraman bermakna:

  • Penyucian diri dari segala hal yang kurang baik sebelum menikah.
  • Permohonan restu kepada Tuhan dan orang tua.
  • Kesiapan lahir batin memasuki kehidupan berumah tangga.

Siapa yang Memandikan?

Air siraman umumnya diguyurkan oleh orang-orang yang dituakan dan dianggap memiliki kehidupan rumah tangga yang baik, dengan harapan keberkahannya menular kepada calon pengantin. Biasanya berjumlah ganjil (7 atau 9 orang), dimulai dari ayah, ibu, lalu sesepuh keluarga.

Perlengkapan Siraman

Beberapa perlengkapan yang lazim disiapkan:

  • Air dari tujuh sumber (banyu pitung sumber), melambangkan keberkahan.
  • Kembang setaman — bunga mawar, melati, dan kenanga.
  • Konyoh atau lulur untuk membersihkan tubuh.
  • Kendi yang akan dipecah di akhir prosesi sebagai simbol calon pengantin siap "berubah" menuju kedewasaan.

Kaitan dengan Hari Baik

Seperti rangkaian pernikahan lainnya, waktu pelaksanaan siraman sering dipertimbangkan berdasarkan weton dan neptu kedua mempelai agar selaras dengan perhitungan hari baik Jawa.

Penutup

Siraman bukan sekadar ritual membersihkan tubuh, melainkan doa dan harapan agar pernikahan berjalan suci, harmonis, dan diberkahi. Ingin menghitung hari baik untuk rangkaian pernikahan Anda? Coba Kalkulator Hari Baik Pernikahan di TanggalanJawa.com.

Artikel selanjutnya →

Tradisi Selapanan: Syukuran 35 Hari Kelahiran Bayi

Semua Artikel