Satu Suro atau 1 Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa, sekaligus penanda pergantian tahun. Bagi sebagian masyarakat Jawa, malam menjelang Satu Suro—dikenal sebagai malam 1 Suro—bukan sekadar pergantian tanggal, melainkan momen yang penuh makna spiritual. Tak heran jika malam ini sering dianggap sakral, bahkan angker. Berikut fakta-faktanya.
Apa Itu Satu Suro?
Suro berasal dari kata Asyura, yaitu hari ke-10 bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Ketika Sultan Agung dari Mataram menyelaraskan kalender Jawa dengan kalender Islam pada tahun 1633 M, bulan pertama kalender Jawa pun dinamai Sura, dan hari pertamanya disebut Satu Suro.
Dengan kata lain, Satu Suro adalah perpaduan antara:
- Kalender Islam (Hijriah) — 1 Muharram
- Kalender Jawa — 1 Sura
- Sistem pasaran — Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon
Mengapa Dihitung Mulai Malam Hari?
Dalam penanggalan Jawa (mengikuti tradisi Islam), pergantian hari dimulai saat matahari terbenam, bukan tengah malam. Karena itu, perayaan Satu Suro justru dimulai pada malam harinya. Inilah yang melahirkan istilah malam 1 Suro, waktu yang paling identik dengan berbagai ritual dan tradisi.
Tradisi yang Mengiringi Malam 1 Suro
Beberapa tradisi yang masih lestari hingga kini antara lain:
- Tapa bisu / mubeng beteng — berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara, sebagai bentuk perenungan dan pengendalian diri.
- Jamasan pusaka — membersihkan dan merawat benda-benda pusaka seperti keris dan tombak.
- Kirab kebo bule — di Keraton Surakarta, kerbau bule keturunan Kyai Slamet diarak sebagai bagian dari upacara.
- Kungkum / sesuci — berendam di sumber air atau sungai tertentu sebagai simbol penyucian diri.
- Lek-lekan — berjaga semalaman sambil berdoa dan berintrospeksi.
Inti dari ritual-ritual ini bukanlah hura-hura, melainkan introspeksi, doa, dan permohonan keselamatan untuk tahun yang akan datang.
Mengapa Sering Disebut Angker?
Kesan angker pada malam 1 Suro tumbuh dari beberapa hal yang saling berkaitan:
- Suasana hening dan khusyuk. Banyak tradisi menuntut keheningan (tapa bisu), sehingga malam terasa lebih sunyi dan mistis dibanding malam biasa.
- Diyakini sebagai waktu sakral. Sebagian masyarakat percaya batas antara dunia nyata dan gaib menipis pada malam ini, sehingga banyak yang menghindari kegiatan ramai.
- Pantangan turun-temurun. Muncul berbagai larangan, seperti dilarang menggelar hajatan, bepergian jauh tanpa keperluan, atau menikah pada bulan Suro—karena dianggap kurang baik.
- Cerita rakyat dan mitos. Kisah-kisah tentang makhluk halus yang "keluar" pada malam Suro turut memperkuat citra angker, meski lebih bersifat folklor.
Antara Kepercayaan dan Kearifan
Penting untuk dipahami bahwa kesan "angker" sebagian besar lahir dari penghormatan terhadap waktu yang dianggap suci, bukan semata ketakutan. Bagi masyarakat Jawa, Satu Suro adalah momen untuk merenung, bersyukur, dan memperbaiki diri—sebuah tahun baru yang dirayakan dengan laku batin, bukan pesta.
Memaknai Satu Suro dengan bijak berarti mengambil nilai positifnya: introspeksi, pengendalian diri, dan harapan akan keselamatan, tanpa larut dalam ketakutan yang berlebihan.
Penutup
Satu Suro adalah salah satu warisan budaya Jawa yang kaya makna. Di balik kesan angkernya, tersimpan ajaran tentang kerendahan hati dan kesadaran spiritual. Ingin tahu Satu Suro tahun ini jatuh pada tanggal berapa? Kamu bisa mengeceknya langsung lewat Kalender Jawa di TanggalanJawa.com.